Rabu, 22 Februari 2012

Pengolahan Tradisional Ikan Teri


­I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Perairan nusantara Indonesia merupakan perairan yang sangat luas. Didukung dari aspek geografis negara Indonesia yang sangat strategis, dimana Indonesia diapit oleh dua benua dan dua samudra yaitu benua Australia dan benua Asia serta Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Ini sangat menguntungkan bagi masyarakat Indonesia terutama dalam sumberdaya alam bahari yang kaya akan berbagai jenis ikan dan tumbuhan laut serta terumbu karang yang menghiasinya (Anonymous, 2003).
Indonesia juga memiliki potensi sumber daya ikan yang cukup besar. Salah satu wilayah di Kalimantan Barat yang berpotensi besar untuk dijadikan  wilayah pengembangan Ikan khususnya Ikan Teri adalah diPulau Lemukutan. Diperairan Pulau Lemukutan, ikan teri memiliki nilai ekonomis yang tinggi dikarenakan banyak diminati oleh masyarakat. Selain itu ikan teri ini juga memiliki kandungan gizi seperti Protein, Lemak, Fosfor, Besi, dan Vitamin B1 yang baik untuk tubuh manusia. Pulau Lemukutan, memiliki potensi yang sangat besar diantaranya adanya pembudidayaan Rumput Laut dan perikanan. Selain itu, potensi perkebunan yang dimiliki juga cukup besar, diantaranya adalah Cengkeh.
Pengembangan Ikan khususnya Ikan Teri diawali dengan pembinaan yang dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Barat. Fokus utama pembinaan tersebut adalah pada pengembangan produknya, serta pengolahan tahap awal sebelum dijual dalam bentuk Ikan Teri mentah kering. Bahkan masyarakat telah menangkap hasil tangkap selama beberapa tahun terakhir ini. Selain itu masyarakat wilayah ini juga telah mulai menjualnya dalam bentuk mentah kering. Namun hingga sekarang penjualannya hanya terbatas dikarenakan tergantung pada musim. Penjemuran Ikan Teri terkadang kurang maksimal pada saat musim hujan. Untuk menanggulanginya, Ikan Teri tersebut hanya didiamkan didalam rumah kaca tempat pengeringan rumput laut. Hal ini dikarenakan kurangnya fasilitas alternatif yang baik untuk pengeringan.
Terkait hal tersebut dan dalam rangka pengabdian masyarakat maka Program Studi Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Politeknik Negeri Pontianak melaksanakan kegiatan Praktek Kerja Lapangan II mengenai pengolahan Ikan Teri secara Tradisional.
Dengan adanya praktek kerja lapangan II ini diharapkan mahasiswa mendapatkan pengetahuan atau informasi tentang pengolahan jenis Ikan khususnya  Ikan Teri tersebut dan pengolahan Tradisional.sehingga mampu mengembangkan usaha pengolahan Ikan Teri dan pengolahan Tradisional perikanan lainnya.  Semuanya itu dalam usaha penganekaragaman pengolahan hasil perikanan dari hasil olahan Tradisional untuk memasyarakatkan dan meningkatkan pendapatan Petani, Nelayan serta menambah Devisa Negara.

1.2. Tujuan Kegiatan
            Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pemanfaatan Ikan khususnya Ikan Teri dalam pengolahan Tradisional Hasil Perikanan, serta bagaimana mengolahnya, sehingga Mahasiswa mengetahui apa kelebihan dan kekurangan pengolahan Ikan Teri di Pulau Lemukutan sehingga dapat mengembangkannya lebih baik lagi.
1.3. Batasan Masalah
      Pada Laporan Praktek Kerja Lapangan ini, membahas tentang pengolahan Ikan Teri yang dilakukan secara Tradisional di Pulau Lemukutan.


II. METODELOGI

2.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan Praktek Kerja Lapangan II ini dilaksanakan pada Rabu hingga Jum’at, tanggal 02 Februari 2011 s/d 11 Februari 2011 di Desa Pulau Lemukutan, Kecamatan Sungai Raya, Kepulauan Kabupaten Bengkayang, dengan kegiatan yang berbeda.
                
2.2 Data yang dikumpulkan
Data yang dikumpulkan pada kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) II dapat diperoleh baik melalui pengumpulan data primer maupun data sekunder.
1.      Data primer, data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara dari sumber pertama (fenomena/objek yang diamati) secara sistematis. Data primer yang dikumpulkan meliputi data sejarah usaha, proses pengolahan ikan teri, volume produksi, pemasaran ikn teri, dll.
2.      Data sekunder, data sekunder diperoleh dari sumber kedua yaitu lembaga atau institusi yang telah melakukan proses pengumpulan data lapangan dan mendokumentasikannya dalam bentuk laporan, buku, diagram, foto, dan media penyimpanan lainnya. Data sekunder yang dikumpulkan meliputi komposisi bahan pembuat ikan teri, klasifikasi jenis dan morfologi ikan teri .

3.3.            Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam Praktek Kerja Lapangan II adalah sebagai berikut:
1.      Studi Pustaka
Studi pustaka adalah pengumpulan data berdasarkan literatur atau referensi yang relevan dari lembaga atau institusi terkait.

2.      Wawancara
Pola wawancara yang dilakukan merupakan wawancara dua arah (dialogis) dimana surveyor sebagai pewawancara dan stakeholder sebagai orang yang diwawancarai. Meskipun topik wawancara dengan teknik seperti ini berpotensi memperluas cakupannya, namun pewawancara sudah dilengkapi dengan poin-poin (guide question) yang akan diwawancarakan dan didiskusikan. Wawancara dititik-beratkan pada proses pembuatan ikan teri dan berbagai aspek yang terkait.
3.      Observasi
Kegiatan ini untuk melihat secara langsung kondisi faktual yang terbangun dilapangan serta memperluas lingkup pengamatan terhadap fenomena/objek subyek yang diamati. Observasi juga merupakan teknik dalam melakukan verifikasi (cross check) terhadap data dan informasi yang dihimpun dari studi pustaka yang dilakukan.



III. TINJAUAN PUSTAKA
  
3.1 Klasifikasi Ikan teri (Stokphorus Spp)
Klasifikasi ikan Teri berdasarkan ikan yang termasuk cartilaginous (bertulang rawan) atau bony ( bertulang keras), menurut Young (1962) dan De Bruin et al (1994) Ciri-ciri ikan teri adalah badan silindris, bagian perut membulat, kepala pendek, moncong nampak jelas dan runcing, anal sirip dubur sedikit dibelakang dan warna tubuh pucat. Jenis-jenis teri yang banyak di Indonesia adalah teri nasi (Stokphorus commrsouli), teri japuh (Dussumieria accuta) dan teri jengki / kadrak (Stokphorus Insularis). Menurut A. Bardin  (1984), klasifikasi Ikan Teri sebagai berikut :

Filum : Chordata

Sub-Filum : Vertebrae

Class : Actinopterygii

Ordo : Clupeiformes

Famili : Engraulididae

Genus : Stolephorus

Species : Stolephorus spp

3.2       Komposisi kimia ikan teri
Ikan teri mempunyai nilai ekonomis yang tinggi Kandungan gizi teri segar meliputi energi 77 kkal; protein l6gr; lemak 1.0 gr; kalsium 500 mg; phosfor 500 mg; besi 1.0 mg; Vit A RE 47; dan Vit B 0.1 mg. Keistimewaan ikan teri dibandingkan dengan ikan lainnya adalah bentuk tubuhnya yang kecil sehingga mudah dan praktis dikonsumsi oleh semua umur. Ikan teri merupakan salahsatu sumber kalsium terbaik untuk mencegah pengeroposan tulang. Ikan teri merupakan sumber kalsium yang tahan dan tidak mudah larut dalam air. ( Tri Mergono, Detty suryati, Sri hartina.2000).
Tabel 1.Komposisi kimia ikan teri ((Stokphorus Spp)
Komponen
Kadar %
Protein
33,40%
Lemak
3,00%
Fosfor
1,50%
Besi
0.0036%
Vitamin B1
0,15%

 3.3      Pengolahan ikan teri (Stokphorus Spp)
Pengolahan Ikan Teri Ikan teri sangat mudah rusak sehingga perlu cara untuk mempertahankan agar tetap awet tanpa menghilangkan rasa, salah satu caranya adalah dengan pengasinan. Proses pengasinan teri dimulai dengan pemilihan ikan teri yang akan diolah. Setelah pemilihan selesai, ikan teri dicuci dengan air dingin untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang tercampur dengan ikan. Pencucian ulang dilakukan dengan menggunakan air bersih untuk menghilangkan air laut atau menurunkan kadar garam dalam ikan. Setelah pencucian, proses selanjutnya adalah perebusan dengan tujuan agar ikan menjadi matang. Pada proses perebusan digunakan garam dengan kadar 5% sampai 6%. Sebelum perebusan, air terlebih dahulu dididihkan setelah ditambahkan garam. Setelah air mendidih, ikan teri kemudian dimasukkan ke dalam rebusan air dan suhu perebusan sekitar 100°C sampai 103°C dan dibiarkan kurang lebih 5-7 menit. Selama dalam air rebusan, dilakukan pengadukan untuk meratakan panas dan menghilangkan busa pada keranjang perebusan. Kemudian, ikan teri yang sudah matang yang ditandai dengan warnanya yang putih dan mengambang dipermukaan air diangkat dan ditiriskan. Dengan menggunakan alat bantu, ikan teri tersebut diratakan dan diletakkan di atas lembaran kayu untuk dikeringkan.



IV. KEADAAN UMUM LOKASI KUNJUNGAN

Secara geografis, Pulau Lemukutan termasuk dalam Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Bengkayang yang terletak pada 0033’00” Lintang Utara sampai dengan 0050’81” Lintang Utara dan 108039’00” Bujur Timur sampai dengan 109004’76” Bujur Timur. Secara administratif, batas wilayah Kecamatan Sungai Raya adalah :
-           Utara                           : Kota Singkawang
-           Selatan                        : Kabupaten Pontianak
-           Timur                           : Kecamatan Capkala Kecamatan Monterado
-           Barat                           : Laut Natuna

Di wilayah kabupaten Bengkayang kecamatan sungai raya juga terdapat potensi kepulauan. Jumlah pulau yang ada di kabupaten Bengkayang sebanyak 9 (sembilan ) pulau. Empat pulau diantaranya berpenghuni menetap, yaitu : Pulau Lemukutan, pulau Kabung, Pulau Penata Besar, dan Pulau Penata Kecil, sedangkan lima pulau tidak berpenghuni menetap diantaranya Pulau Tempurung, Pulau Semasak, Pulau Randayan, Pulau Kera dan Pulau Baru. Pulau - pulau tersebut sangat potensial dijadikan tempat pariwisata, terutama wisata bahari. Namun, pulau yang berpenghuni menetap segala sarana dan prasarana masih sangat minim. Pulau yang paling luas adalah pulau Lemukutan yaitu seluas + 7567 Ha, Pulau Penata Besar + 4.675 Ha menempati posisi nomor 2 terluas. Sedangkan pulau yang paling kecil adalah pulau Belacan + 4 Ha yang termasuk wilayah desa Sungai Keran. Pulau Lemukutan memiliki luas area 125,20 kilo meter/segi da terletak di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Jumlah penduduk yang terdapat di pulau Lemukutan sebanyak 1045 orang, terbagi atas 2 dusun yaitu dusun Karang Timur, dan dusun Batu Barat dengan jumlah total kepala keluarga sebanyak 245. jumlah total penduduk pria sebanyak 539 orang sedangkan wanita sebanyak 506 orang (BPS, 2007).
Pulau Lemukutan yang terletak di Kabupaten Bengkayang ini memiliki 4 jenis pengolahan tradisional, diantaranya Pengolahan ikan asin, pengolahan rumput laut menjadi dodol dan manisan serta  pengolahan ikan teri dan pengolahan sotong.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1       Bahan baku
5.1.1    Kondisi, Cara Penangkapan serta Cara Penanganan Ikan Teri
Pada proses produksi, hasil yang di dapat tidak menentu. Hal ini di karenakan oleh faktor musim. Jika proses produksi dilakukan pada musimnya, maka hasil yang di peroleh mencapai berton-ton. Tetapi jika tidak musimnya hasil yang di dapat sangat sedikit. Bahkan kadang kala tidak ada produksi sama sekali. Waktu yang paling banyak hasil produksi atau musim ikan teri adalah pada bulan April, Mei, Juni dan Juli.
Ikan teri tersebut diperoleh dari hasil penangkapan secara langsung yang ditangkap menggunakan bagan yang dipasang disekitar perairan pulau lemukutan.
            Setelah ditangkap, jaring yang dipasang dibagan ditarik keatas bagan, ikan teri dimasukkan kekapal dan dibawa kedarat. Setelah dibawa kedarat, ikan disimpan didalam keranjang. Ikan teri dicuci dengan menggunakan air yang dialirkan dari laut. Kemudian ikan teri direbus menggunakan air laut dan ditambahkan garam dan air tawas. Setelah itu, ikan ditiriskan dan dijemur diterik sinar matahari.



5.1.2    Alur Proses Pembuatan ikan teri
Penangkapan ikan
 


Penimbangan ikan
 
Pencucian dan pemilihan ikan
 
Perebusan ikan
 
Pengeringan ikan
 
sortasi
 
pengemasan






 
 


















5.1.3    Proses Pengolahan Ikan teri
Proses pengolahan ikan teri mempuyai 2 tahap, yaitu tahap persiapan bahan baku dan tahap persiapan peralatan.
1.      Tahap persiapan Bahan baku
a.             Kondisi Ikan.
Bahan baku dalam pembuatan ikan teri ini adalah ikan teri yang masih sangat segar yag baru ditangkap dari laut.


b.            Garam
Garam yang digunakan adalah garam kiloan agar dapat menekan biaya produksi.
c.             Air
Air yang digunakan adalah air laut, karena mempunyai kadar garam yang alami dan cukup tinggi.
                       d.    Tawas  
                        tawas digunakan untuk membuat ikan teri lebih mengkilat dan tidakm udah patah.
           
2.      Tahap persiapan Alat
Alat yang digunakan dalam pengolahan ikan teri ini sangat sederhana, karena alat yang digunakan sangat mudah ditemukan dala proses pengolahan tradisional.

a.      Penangkapan ikan
penangkapan ikan teri menggunakan jaring yang dipasang pada bagan yang terletak ditengah laut yang kemudian diberi lampu. Selanjutnya ikan diangkat ke darat dengan cara, melepaskan jaring dari bagan dan dibawa kedarat.
b.      Penimbangan
Setelah proses penangkapan, hasil ikan yang di bawa kedarat dilakukan proses penimbangan, hasil yang didapat dari proses penimbangan ini sebanyak 30 kg. penimbangan dilakukan dengan menggunakan alat timbangan sederhana yaitu timbangan gantung dan di simpan didalam ragak, menurut Rosdiana Sijabat (2004) dalam anonim (2004)  penempatan ikan setelah di timbang adalah keranjang plastik.

c.       Pencucian dan Pemilihan ikan
Pada proses pencucian, ikan dimasukkan kedalam ragak dan dicuci menggunakan air asin dari laut sampai sisiknya mengelupas. Air yang digunakan ialah air jernih yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa serta tidak mengandung kuman dan zat-zat yang berbahaya dengan Tujuan adalah mencegah terjadinya serta meluasnya penyakit bawaan, setelah itu ikan dilakukan proses pemilihan jenisnya karena hasil tangkap yang didapat beraneka ragam jenisnya menurut Rosdiana Sijabat (2004) dalam Anonim (2004), ikan dicuci sampai dua kali dengan menggunakan air bersih, tujuan pencucian yaitu untuk menghilangkan lendir dan darah sedangkan pemilihan jenis ikan dilakukan setelah pencucian.

d.      Perebusan ikan
           Pada proses perebusan, air yang digunakan ialah air asin  dari laut dan dicampur 1 ember (berukuran sedang) garam. Dalam 1 drum ikan dapat dibagi menjadi 8 ragak. Masing-masing berisi 1,5kg ikan. Pada proses perebusan pertama dan kedua Lalu beri 0,5 ons tawas dan garam 5kg. Sedangkan menurut Rosdiana Sijabat, garam yang dipakai dalam perebusan adalah 5% sampai 60% dari jumlah ikan. Pada proses perebusan ke 3 yang direbus hanya 4 ragak dengan garam ½ ember 2,5 kg, tawas 0,25 ons dan di rendam selama kurang lebih 5 menit, sebelum proses perebusan. Proses perebusan berlangsung selama 15 menit dan air dalam keadaan mendidih. Menurut Rosdiana Sijabat (2004) dalam Anonim (2004) proses perebusan ini dalam suhu air 100°C sampai 103°C dan dibiarkan kurang lebih 5-7 menit. Fungsi garam adalah untuk mempertahankan daya awet ikan. Sedangkan air tawas berfungsi agar ikan menjadi putih.

e.    Pengeringan ikan
           Setelah ikan direbus, ikan dikeringkan diatas tikar yang berukuran besar. Menurut Rosdiana Sijabat (2004) dalam Anonim (2004), ikan yang akan dijemur diletakan di atas papean. Dalam proses pengeringan, faktor cuaca sangat mempengaruhi. Jika cuaca panas, maka ikan bisa kering dalam waktu ½ hari, tetapi jika cuaca tidak mendukung, proses pengeringan bisa berlangsung beberapa hari. Hasil penyusutan 60% dari 30 kg, jadi mendapatkan hasil 18 kg.  
Tujuan pengeringan adalah mengurangi kadar air dalam daging ikan sampai batas tertentu, agar menghambat perkembangan mikroorganisme dan juga perubahan-perubahan yang merugikan dalam daging ikan akibat enzim-enzim. Setelah melalui pengeringan, ikan dapat disimpan lebih lama.
f.       Sortasi
Sortasi dilakukan untuk meisahkan ikan teri berdasarkan ukuran tubuhnya. Terdapat 2 ukuran pada ikan teri, yaitu ukuran besar dan ukuran kecil. Sedangkan menurut Rosdiana Sijabat (2004) dalam Anonim (2004) ikan yang akan di sortir harus di ayak terlebih dahulu, agar antara ikan yang hancur dan utuh terpisah.
g.      Pengemasan Ikan teri kering
Ikan Teri yang sudah mengalami proses pengolahan siap dimasukkan kedalam karung atau plastik besar dan untuk dijual. Menurut Rosdiana Sijabat (2004) dalam Anonim (2004) pengemasan dikemas dari bahan yang ringan dan tahan dari pengaruh luar. Tujuan pengemasan ini adalah agar ikan tidak mengalami kerusakan yang disebabkan oleh suhu, mikroba, fisik, dan kimia dari luar.

5.2       Pemasaran
            Pada proses pendistribusian ikan teri, bapak apriandi menggunakan jasa pesanan / memberikan info kepada distributor agar barang di ambil dari tempat produksi untuk di jual ke pasaran dan ikan teri ini juga dijual ke luar seperti Malasia .
            Penjualan harga ikan teri pada musimnya adalah Rp.20.000/Kg sedangkan pada waktu waktu tidak musim mencapai Rp.30.000/Kg dengan perbedaan harga antara ikan teri besar dan ikan teri kecil yaitu : pada musimnya ikan teri besar seharga Rp.23.000/Kg sedangkan ikan teri kecil Rp.25.000/Kg. Sementara, harga ikan teri pada waktu bukan musimnya ikan teri besar mencapai harga Rp.30.000/Kg dan ikan kecil seharga Rp.32.000/Kg. Usaha pengolahan ikan teri ini mempunyai penghasilan ±100jt per tahun. Dengan pembagian hasil yaitu 7:3 terhadap kayawannya. Keuntungan ini di dapat setelah jadi penyusutan. Penyusutan ikan teri sekitar ±60% dari berat basah ikan teri.
Daya tahan ikan teri ini bisa mencapai waktu ±3 bulan dengan tanda-tanda ikan teri yang mulai membusuk adalah adanya perubahan warna tubuh ikan menjadi kekuning-kuningan.

VI. PENUTUP


6.1.      Kesimpulan
            Setelah melakukan PKL II di Pulau Lemukutan kabupaten bengkayang didapat kesimpulan bahwa dalam mengolah ikan teri melalui berbagai tahapan yaitu, penangkapan, pencucian, perebusan, pengeringan, sehingga menghasilkan ikan teri kering yang cukup baik. Dalam pengolahan tersebut, banyak pula ditemukan kendala-kendala diantaranya, pada proses pencucian, air yang digunakan adalah air laut yang kebersihannya kurang terjamin. Selain itu, pada proses penjemuran kurang maksimal karena masih menggunakan alat-alat sederhana. Sedangkan pengemasannya, kurang menarik konsumen karena masih minimnya kemampuan masyarakat setempat untuk membuat kemasan.
6.2.      Saran
            Berdasarkan pengamatan langsung dilapangan, maka kami dapat memberikan beberapa saran yang kiranya dapat memberikan suatu perbaikan dimasa yang akan datang, yaitu antaralain :
1.      Diperlukannya sarana dan prasarana pendukung agar lebih meningkatkan produksi ikan teri dipulau lemukutan.
2.      Sangat diperlukan perhatian khusus dari pemerintah, dikarenakan potensi yang dimiliki sangat baik.



DAFTAR PUSTAKA

Bataviase.co.id
Daftar komposisi bahan makanan. Jakarta : Bhratara Karya Aksara 1979.
http://usaha-umkm.blog.com
http://www.terangi.or.id/misc/lain.htm 27 Desember 2004
Komposisi air bersih, wikipedia.net 2009
Pembuatan ikan asin : Jakarta : Balai Besar Penelitian dan pengembangan Industri Hasil Pertanian, Departemen Perindustrian, 1982. Publikasi No. 4.
Rosdiana Sijabat, PSEKP - UGM, 2004
Sumber : Warta Pasar Ikan
Pribadi.Satrio.2009.Praktek Kerja Lapangan 2.Politeknik Negeri Pontianak
Topografi kepulauan, wikipedia.net 2008

Jika seseorang ingin menjadi bagian dari hidupmu, dia akan berikan yg terbaik tuk berada di sana, tak peduli betapapun sulitnya.
Santaii Punyee